logo 21
Untuk anda yang gemar menonton film di bioskop, bersiaplah untuk kecewa. Apalagi bagi mereka yang hobi menonton film-film terbaru luar negeri. Sebab mulai jumat kemarin, seluruh film-film asing ditarik peredarannya dari bioskop di tanah air. Bioskop yang dimaksud adalah seluruh bioskop baik jaringan 21, XXI, maupun Blitz Megaplex.
Noorca Masardi, juru bicara 21 Cineplex membenarkan itu. Ia mengatakan tak ada lagi film asing yang tayang di semua bioskop di Indonesia, termasuk 21, mulai Jumat (18/2). Ia mengatakan perwakilan Motion Picture Association (MPA) sempat datang dan berkoordinasi dengan pihak 21. Namun, asosiasi perusahaan film asing itu tetap pada keputusan menarik semua film yang beredar ataupun belum. “MPA mewakili sejumlah perusahan film Asing sudah resmi menarik semua film. Bukan hanya film baru tapi juga yang sudah beredar.” terangnya.
Menurut Noorca, MPA menolak dan keberatan dengan ketentuan Direktorat Jenderal Bea Cukai mengenai masalah bea masuk atas hak distribusi film impor yang diberlakukan per Januari 2011.
Pihak MPA berpendapat kalau peraturan tersebut tidak lazim dan tidak pernah ada dalam praktik bisnis film di seluruh dunia.
Sebab, setiap kopi film impor yang masuk ke Indonesia, selama ini sudah dikenakan bea masuk pph sebesar 23,75% dari nilai barang.
Selain itu, selama ini, Negara juga selalu menerima pembayaran pajak penghasilan 15% dari hasil eksploitasi setiap film impor yang diedarkan di indonesia.
Pemda juga selalu menerima pajak tontonan dalam kisaran 10-15% untuk setiap judul film sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Akibat langsung dari dicabutnya hak distribusi film impor untuk Indonesia itu adalah :
1. Negara akan kehilangan pendapatan dari film impor sebesar 23,75% atas bea masuk barang, 15% Pph hasil ekploitasi film impor, dan Pemda akan kehilangan 10-15% pajak tontonan sebagai pendapatan asli daerah.
2. Bioskop 21 Cinepleks dengan sekitar 500 layarnya, sebagai pihak yang diberi hak untuk menayangkan film impor akan kehilangan pasokan ratusan judul film setiap tahun, sementara film nasional selama ini baru mampu berproduksi 50-60 judul/tahun.
3. Dengan akan merosotnya jumlah penonton film (impor) ke bioskop, maka eksistensi industri bioskop di indonesia akan terancam.
4. Nasib 10 ribu karyawan 21 Cinepleks dan keluarganya, akan terancam
5. Penonton film impor di indonesia akan kehilangan hak akan informasi yang dilindungi UUD.
6. Industri food & beverage (cafe-resto) akan terkena dampak ikutannya, juga pengunjung ke mall/pusat perbelanjaan, parkir, dll.
7. Industri perfilman nasional harus meningkatkan jumlah produksi dan jumlah kopi filmnya bila ingin ‘memanfaatkan’ peluang itu, yang berarti harus meningkatkan permodalannya sementara kecenderungan penonton film indonesia terus merosot.
Baca juga

Iklan