buang angin
KEBIASAAN buang gas sembarangan, apalagi di tempat umum, dianggap tidak sopan. Namun, kentut yang ditahan atau tidak dikeluarkan justru menimbulkan masalah. ”Salah satunya, mengakibatkan sulit buang air besar,” kata dr Pandji Mulyono SpPD KEMD.
Kentut (flatus) merupakan proses keluarnya gas yang telah dihasilkan di saluran pencernaan melalui anus. Gas-gas tersebut berasal dari udara yang tertelan saat seseorang makan/minum dan hasil pencernaan makanan yang tidak sempurna di dalam usus. Produksi gas dalam usus biasanya akan meningkat setelah makan.
Gas yang terbentuk akan dibawa menuju ke rektum (bagian akhir dari usus) melalui gerakan peristaltik usus yang juga akan membawa sisa pencernaan (faeces). Gas ataupun faeces yang sudah mencapai rektum akan menimbulkan keluhan serupa. Yaitu, rasa tidak nyaman di sekitar perut dan mulas. ”Selanjutnya, flatus akan dikeluarkan melalui anus secara tidak sengaja ketika tekanan di dalam rektum lebih besar daripada kekuatan sphincter ani,” papar spesialis penyakit dalam dari RSAL dr Ramelan Surabaya itu.
Flatus yang tertahan/tak keluar mengakibatkan tekanan parsial di rongga usus lebih tinggi dari dalam darah. Dengan begitu, terjadilah pelebaran usus yang abnormal. ”Lama-kelamaan kondisi tersebut menjadikan seseorang sulit buang air besar,” lanjut Pandji.
Flatus berbau sangat mungkin karena ada gas hidrogen sulfida dan asam lemak rantai pendek. Kadar bahan tambahan tersebut memang tak banyak. ”Bau lebih menusuk kalau makanan yang dikonsumsi berbau tajam. Misalnya, petai, makanan yang mengandung protein, dan lemak tinggi,” kata Pandji.
Buang gas yang sering dan berbau tak sedap mungkin saja terkait dengan penyakit yang meningkatkan produksi gas di dalam usus. Contohnya, gangguan penyerapan makanan (sindrom malabsorpsi), diare kronis karena parasit tertentu (giardiasis), tukak lambung (ulkus peptikum), dan batu kandung empedu (kolelitiasis). ”Makin banyak makanan tak tecerna dengan baik, otomatis jumlah gas hidrogen sulfida bertambah,” lanjutnya.
Ada beberapa cara agar tak terlalu sering buang angin. Di antaranya, memperbaiki cara mengunyah makanan. Tindakan tersebut bermanfaat agar pencernaan di usus halus berjalan optimal. Jadi, sisa kotoran yang berada di usus besar betul-betul hanya ampas. ”Selain itu, cukupi kebutuhan serat agar buang air besar lancar,” tambahnya.
baca juga

Iklan