paracetamol
Parasetamol (Asetaminofen) merupakan salah satu obat yang paling banyak digunakan sehari-hari karena obat ini berfungsi sebagai pereda nyeri dan penurun panas.
Parasetamol dapat dijumpai di dalam berbagai macam obat, baik sebagai bentuk tunggal atau berkombinasi dengan obat lain, seperti misalnya obat flu dan batuk. Sebut saja Panadol, Biogesic, Sanmol, dan lain sebagainya. Obat-obatan ini sudah berpuluh tahun digunakan dan  terbukti sebagai obat yang aman dan efektif. Tetapi, tidak sedikit yang mencoba meminum obat-obatan ini dalam dosis yang berlebih karena berbagai alasan mulai dari hendak lekas sembuh bahkan hingga mencoba untuk mengakhiri hidup. Walaupun terbukti sebagai obat yang aman dan efektif tetapi jika diminum dalam dosis berlebihan (overdosis), parasetamol dapat menimbulkan kematian.
Tiap tablet obat penurun panas biasanya mengandung parasetamol 500-1.000 miligram.
Para ahli telah menyepakati bahwa kadar paracetamol akan bersifat racun atau toksik bagi hati mulai pada dosis 4 gram perhari atau 4000 mg.
Metabolisme parasetamol terjadi di hati. Metabolit utamanya meliputi senyawa sulfat yang tidak aktif dan konjugat glukoronida yang dikeluarkan lewat ginjal. Hanya sedikit jumlah parasetamol yang bertanggung jawab terhadap efek toksik (racun) yang diakibatkan oleh metabolit NAPQI(N-asetil-p-benzo-kuinon imina). Bila pasien mengkonsumsi parasetamol pada dosis normal, metabolit toksik NAPQI ini segera didetoksifikasi menjadi konjugat yang tidak toksik dan segera dikeluarkan melalui ginjal. Namun apabila pasien mengkonsumsi parasetamol pada dosis tinggi, konsentrasi metabolit beracun ini menjadi jenuh sehingga menyebabkan kerusakan hati. Parasetamol merusak liver karena bahan kimia itu selama dalam tubuh akan menghasilkan senyawa oksigen radikal, hingga terjadi stres oksidatif, dan kemudian membunuh sel liver. Stres oksidatif sifatnya merusak organ. Jadi, kalau senyawa yang bersifat reaktif itu menghantam sel liver, dapat menghancurkan organ penting itu.
Gejala keracunan parasetamol (asetaminofen) yang mungkin ditemukan :
~ berkeringat
~ kejang
~ nyeri atau pembengkakan di daerah lambung
~ nyeri atau pembengkakan di perut bagian atas
~ diare
~ nafsu makan berkurang
~ mual dan/atau muntah
~ rewel
~ koma.
Tindakan darurat yang dapat dilakukan di rumah adalah segera memberikan sirup ipekak untuk merangsang muntah dan mengosongkan lambung.
Di rumah sakit, dimasukkan selang ke dalam lambung melalui hidung untuk menguras lambung dengan air. Untuk menyerap asetaminofen yang tersisa, bisa diberikan arang aktif melalui selang ini. Proses pengosongan lambung ini harus dengan cepat dilakukan yaitu sebelum 2 jam setelah konsumsi parasetamol. Kemudian kadar asetaminofen dalam darah diukur 4-6 jam kemudian. Anti racun paracetamol adalah N-asetilsistein (N-acetylcysteine, NAC). Antidotum ini efektif jika diberikan dalam 8 jam setelah mengkonsumsi parasetamol dalam jumlah besar. NAC juga dapat mencegah kerusakan hati jika diberikan lebih dini.
baca juga